Oleh: Oskar Vitriano
Pemerhati Kebijakan Publik dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
Di tengah upaya Indonesia mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru, industri olahraga justru masih dipandang sebagai sektor pelengkap. Padahal, di berbagai negara, olahraga telah berkembang menjadi industri strategis yang menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, meningkatkan daya saing pariwisata, sekaligus mendorong inovasi. Indonesia memiliki modal yang besar untuk mengikuti jejak tersebut, tetapi masih menghadapi tantangan berupa belum terintegrasinya pengukuran ekonomi olahraga dalam sistem statistik nasional.
Menurut Laporan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2024 yang diterbitkan Kementerian Pemuda dan Olahraga, nilai ekonomi olahraga Indonesia mencapai Rp39,45 triliun, meningkat dari Rp37,28 triliun pada tahun sebelumnya. Namun, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih sekitar 0,19 persen, menunjukkan bahwa potensi ekonomi olahraga nasional masih sangat besar untuk dikembangkan.
Data Kementerian Pemuda dan Olahraga juga menunjukkan bahwa industri olahraga Indonesia tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan pertandingan. Kontributor terbesar berasal dari produk sepatu olahraga (41,75 persen), pakaian olahraga (28,61 persen), tiket pertandingan (25,96 persen), biaya perjalanan untuk aktivitas olahraga (20,59 persen), dan sewa tempat latihan (18,69 persen). Fakta tersebut menunjukkan bahwa olahraga telah membentuk rantai nilai yang melibatkan industri manufaktur, perdagangan, transportasi, jasa, hingga ekonomi kreatif.
Sayangnya, permintaan domestik terhadap produk dan jasa olahraga masih belum optimal. Berdasarkan IPO 2024, tingkat partisipasi masyarakat Indonesia dalam berolahraga baru mencapai sekitar 26,3 persen. Rendahnya partisipasi tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga membatasi pertumbuhan industri kebugaran, penyelenggaraan event, serta pasar peralatan olahraga di dalam negeri.
Sementara itu, pasar olahraga dunia berkembang jauh lebih cepat. Berbagai laporan industri internasional yang dirangkum dalam IPO 2024 memperkirakan nilai industri olahraga global telah mencapai sekitar USD600 miliar dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 8 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya investasi pada hak siar, sport tourism, pusat kebugaran, teknologi olahraga, serta ekonomi digital.
Indonesia sebenarnya telah membuktikan bahwa olahraga mampu menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. Kementerian Pemuda dan Olahraga mencatat penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 menghasilkan dampak ekonomi nasional sekitar Rp4,96 triliun, menarik lebih dari 140 ribu penonton, melibatkan lebih dari 600 UMKM, serta menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja lokal. Selain meningkatkan okupansi hotel dan kunjungan wisatawan, kegiatan tersebut juga mendorong pertumbuhan sektor transportasi, perdagangan, kuliner, dan jasa lainnya di Nusa Tenggara Barat.
Namun, berbagai capaian tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam statistik ekonomi nasional. Indonesia hingga kini belum memiliki Sport Satellite Account (SSA) sebagaimana telah diterapkan di berbagai negara maju. Padahal, menurut kerangka System of National Accounts (SNA) yang digunakan World Bank dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kontribusi suatu sektor terhadap perekonomian seharusnya diukur berdasarkan nilai tambah bruto (Gross Value Added/GVA), bukan sekadar nilai transaksi. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah mengetahui kontribusi riil industri olahraga terhadap PDB tanpa terjadi penghitungan ganda.
Karena itu, pemerintah perlu mulai menyusun Sport Satellite Account Indonesia melalui kolaborasi antara Badan Pusat Statistik, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku industri. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa sistem ini mampu menghasilkan statistik ekonomi olahraga yang lebih akurat sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).
Di tengah upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, olahraga layak ditempatkan sebagai salah satu sektor strategis. Dengan kontribusi yang saat ini masih 0,19 persen terhadap PDB, ruang ekspansi industri olahraga Indonesia masih sangat luas. Tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan prestasi atlet, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi olahraga yang mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, memperkuat UMKM, dan meningkatkan daya saing nasional. Jika dikelola secara serius, olahraga bukan sekadar arena kompetisi, melainkan dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia pada dekade mendatang.










